Minggu, 18 Oktober 2009
puisi idul fitri
Ramadhanpun berlalu. Meninggalkan bekas mengharu biru. Tinggal rasa rindu 'tuk kembali di bulan yang penuh syahdu. Kini tlah tiba Idul Fitri, hari kita kembali suci. Sebelas bulan mengasah diri agar menjauh dari pebuatan bathil, hingga Ramadhan datang kembali. Taqalballahu mina wa ming kum. selamat Idul Fitri 1430, mohon maaf lahir dan bathin. Elly Ranty dan keluarga.
Jumat, 02 Oktober 2009
QS.17.16 = Gempa Sumbar. 17.16 (warning : Arifin Ilham)
Untuk direnungkan
QS : 17.16 = Gempa Sumbar : 17.16
Setelah mendengar uraian Arifin Ilham sehari setelah terjadi gempa tektonik dengan kekuatan 7.6 s.r. kedalam 71 km dengan jarak 57 km barat daya Pariaman pada Rabu, 30 September 2009, maka patut kita renungkan firman Allah pada QS : 17:16 ( Surah Al Israa' ayat 16 ), yang artinya:
" Apabila Kami kehendaki akan membinasakan suatu negeri (lebih dulu) Kami suruh orang- orang yang mewah (supaya ta'at), lalu mereka fasik (durhaka), sebab itu berhaklah mereka ditimpa siksaan, lalu Kami binasakan negeri mereka sebinasa- binasanya."
Marilah sama- sama kita renungkan, apa Tujuan dan maksud Allah SWT, kenapa peristiwa gempa itu waktunya yaitu jam 17.16 menit sama persis dengan firman Allah SWT surat 17:16 yang mmemperingati orang - orang kaya yang tidak ta'at kepada Allah sehingga Allah peringati dengan peristiwa gempa yang kejadiannya mirip dengan makna " Kami binasakan negeri mereka sebinasa- binasanya." Kejadian itu adalah hampir rata- rata posisi bangunan amblas, terlihat gambar- gambar yang ditayangkan atap- atap tergeletak ditanah, seperti hotel ambacang yang 6 lantai itu, 3 atau 4 lantainya amblas masuk tanah. Sementara sejumlah desa dari sejumlah kecamatan di Kabupaten Pariaman mayoritas bangunan tertimbun tanah, dan ratusan orang ter kubur hidup- hidup. Disini sudah harus menjadi pelajaran, lakukan intropeksi diri (muhasabah), siapa sih sesungguhnya kita, makhluk manusia ini ? Agar kita sadar-sesadarnya bahwa apa yang ada dialam semesta ini termasuk yang kita milik secara pribadi yang merasa kita adakan sendiri dari kerja keras kita jangan sekali- kali mengaggap adalah milik kita (QS:57 :5: Kepunya anNya kerajaan langit dan bumi, dan kepada Allah dikembalikan segala urusan) Sehingga kita menjadi sombong, merasa hebat, suka ria atau pamer (QS: 71:1: Sesungguhnya Kami mengutus Nuh pada kaumnya,(Firman Kami): engkau berilah peringatan kaum engkau, sebelum tiba kepa da mereka siksa yang pedih.) dan (QS: 71:7: Sesungguhnya aku tiap-tiap ku seru mereka, supaya Engkau ampuni dosa mereka, mereka tutup telinga mereka dengan anak jarinya, dan mereka tutup (kepalanya) dengan kainnya, dan mereka berkekalan (Dalam kekafirannya), dan mereka sombong dan sesombong-sombongnya). Mungkin tidak diucapkan, tapi sikap dan perbuatan seringkali seolah- olah dunia ini bisa digenggam, atau didunia ini hanya "saya" yang ada, yang lain numpang. Akumulasi sikap seperti itu melahirkan perbuatan yang sangat tidak disukai oleh Allah SWT, kikir, pelit, hitung-hitungan, memberi dengan niat pamer, karena harus dilihat orang atau di sorot kamera, pilih-pilih yang diberi, kalau tidak memberi untung, seperti nama jadi terkenal, atau mudah mendapat job, atau mudah mendapat tender, tidak perlu dibantu atau ditolong (QS:57:7: Berimanlah kamu kepada Allah dan rasulnya, dan nafkahkanlah sebagian harta, yang kamu dijadikan Allah penguasa pada harta itu. Maka orang- orang yang beriman diantara kamu dan menafkahkan (sebagian hartanya) , untuk mereka itu pahala yang besar). Belum lagi perbuatan-perbuatan dengan cara menerabas dalam mendapatkan sesuatu atau memperkaya diri, seperti korupsi, menyogok dlsb. Perbuatan seperti ini tidak akan melahirkan amal saleh yang diridhai Allah SWT. Memang, atas nama berbuat kebaikan mereka memberi, bersedekah, menyumbang, berzakat. Tapi tetap tidak ada keikhlasan, tetap ingin disorot agar terlihat oleh banyak orang, dan merasa puas jika sudah dipuji
Sebab sudah merupakan hukum alam, jika sesuatu dimulai atau didapat dengan cara yang tidak benar maka akan melahirkan perbuatan yang tidak benar juga. Akhirnya semua yang dilakukan itu bagai air di daun talas.
" Apabila Kami kehendaki akan membinasakan suatu negeri (lebih dulu) Kami suruh orang- orang yang mewah (supaya ta'at), lalu mereka fasik (durhaka), sebab itu berhaklah mereka ditimpa siksaan, lalu Kami binasakan negeri mereka sebinasa- binasanya."
Marilah sama- sama kita renungkan, apa Tujuan dan maksud Allah SWT, kenapa peristiwa gempa itu waktunya yaitu jam 17.16 menit sama persis dengan firman Allah SWT surat 17:16 yang mmemperingati orang - orang kaya yang tidak ta'at kepada Allah sehingga Allah peringati dengan peristiwa gempa yang kejadiannya mirip dengan makna " Kami binasakan negeri mereka sebinasa- binasanya." Kejadian itu adalah hampir rata- rata posisi bangunan amblas, terlihat gambar- gambar yang ditayangkan atap- atap tergeletak ditanah, seperti hotel ambacang yang 6 lantai itu, 3 atau 4 lantainya amblas masuk tanah. Sementara sejumlah desa dari sejumlah kecamatan di Kabupaten Pariaman mayoritas bangunan tertimbun tanah, dan ratusan orang ter kubur hidup- hidup. Disini sudah harus menjadi pelajaran, lakukan intropeksi diri (muhasabah), siapa sih sesungguhnya kita, makhluk manusia ini ? Agar kita sadar-sesadarnya bahwa apa yang ada dialam semesta ini termasuk yang kita milik secara pribadi yang merasa kita adakan sendiri dari kerja keras kita jangan sekali- kali mengaggap adalah milik kita (QS:57 :5: Kepunya anNya kerajaan langit dan bumi, dan kepada Allah dikembalikan segala urusan) Sehingga kita menjadi sombong, merasa hebat, suka ria atau pamer (QS: 71:1: Sesungguhnya Kami mengutus Nuh pada kaumnya,(Firman Kami): engkau berilah peringatan kaum engkau, sebelum tiba kepa da mereka siksa yang pedih.) dan (QS: 71:7: Sesungguhnya aku tiap-tiap ku seru mereka, supaya Engkau ampuni dosa mereka, mereka tutup telinga mereka dengan anak jarinya, dan mereka tutup (kepalanya) dengan kainnya, dan mereka berkekalan (Dalam kekafirannya), dan mereka sombong dan sesombong-sombongnya). Mungkin tidak diucapkan, tapi sikap dan perbuatan seringkali seolah- olah dunia ini bisa digenggam, atau didunia ini hanya "saya" yang ada, yang lain numpang. Akumulasi sikap seperti itu melahirkan perbuatan yang sangat tidak disukai oleh Allah SWT, kikir, pelit, hitung-hitungan, memberi dengan niat pamer, karena harus dilihat orang atau di sorot kamera, pilih-pilih yang diberi, kalau tidak memberi untung, seperti nama jadi terkenal, atau mudah mendapat job, atau mudah mendapat tender, tidak perlu dibantu atau ditolong (QS:57:7: Berimanlah kamu kepada Allah dan rasulnya, dan nafkahkanlah sebagian harta, yang kamu dijadikan Allah penguasa pada harta itu. Maka orang- orang yang beriman diantara kamu dan menafkahkan (sebagian hartanya) , untuk mereka itu pahala yang besar). Belum lagi perbuatan-perbuatan dengan cara menerabas dalam mendapatkan sesuatu atau memperkaya diri, seperti korupsi, menyogok dlsb. Perbuatan seperti ini tidak akan melahirkan amal saleh yang diridhai Allah SWT. Memang, atas nama berbuat kebaikan mereka memberi, bersedekah, menyumbang, berzakat. Tapi tetap tidak ada keikhlasan, tetap ingin disorot agar terlihat oleh banyak orang, dan merasa puas jika sudah dipuji
Sebab sudah merupakan hukum alam, jika sesuatu dimulai atau didapat dengan cara yang tidak benar maka akan melahirkan perbuatan yang tidak benar juga. Akhirnya semua yang dilakukan itu bagai air di daun talas.
Langganan:
Postingan (Atom)