Selasa, 15 September 2009
Perkawinan bukan milik sendiri, jangan egois
Minggu, 13 September 2009
ABNORMAL YANG NORMAL, NORMAL YANG ABNORMAL
Di kompleks kami sebuah kompleks masyarakat kelas menengah bawah,katakanlah Perumnas , hampir setiap hari ditontonkan hilir mudiknya seorang wanita tua berwajah Indo dengan tubuh yang semampai.Hal apa yang menarik dari wanita tua ini sehingga saya memerlukan unuk menulisnya. Wanita tua yang selalu memakai daster batik yang dikenal dengan panggilan tante Bedah ini oleh masyarakat di kota tempat tinggal kami disebut sebagai orang gila.Sehingga setiap dia lewat anak-anak kecil akan serta merta berlarian kucar kacir menggambarkan ketakutan sambil berucap “ada tante bedah, ada tante bedah “.Bahkan ibu-ibu sering menjadikannya sebagai alat mengultimatum anak-anak mereka bila berprilaku tidak menurut,seperti misalnya jika malas makan,”nanti ibu kasih tante bedah ya nasinya”,atau “tante bedah ini nggak mau berhenti nangis”.Apa lagi ketika tante bedah pas kebetulan lagi lewat,mendadak sontak sianak akan berhenti menangis dan menyembu-nyikan mukanya dalam pelukkan ibunya.
Dalam pengamatanku ,sesungguhnya tante Bedah ini tidak bisa dikatakan gila.Hal ini bisa disimpulkan dari beberapa kali pengalamanku ketika berselisih jalan dengannya.Dia memang sering terlihat suka bicara sendiri.Namun pernah aku berbicara sekali dengannya,aku bertanya mau beli apa tante Bedah,dia jawab pertanyaanku dengan satu kalimat pendek yang baik,”mau beli rokok” Saat itu kami sama-sama berada disuatu warung.Bahkan ketika ditawarkan pisang goreng dia meneri manya dan dia makan.
Suatu hal yang mendorong masyarakat mempertahankan asumsinya bahwa tante Bedah gila,ka rena dia senantiasa terlihat oleh masyarakat disetiap waktu,pagi,siang , dan sore.Tangannya senatiasa mengepit benda yang tidak layak,kadang kain,kadang sesuatu yang dibungkus koran.Ten tu saja dengan sebatang rokok yang selalu ada diantara sela jarinya.
Terakhir aku berkesimpulan bahwa dia tidak gila,pendapat ini memperkuat asumsiku yang sudah sejak awal,bahwa lebih tepat dia dikatakan mengalami depresi atau stres.Indikasi yang memperkuat asumsi tersebut antara lain adalah,daster batik yang dipakainya selalu bersih meskipun sering terlihat usang,sesekali tampak memakai daster agak baru.Penampilan fisiknya tidak kotor.Utuk hal ini saya pernah mendapat penjelasan dari seorang teman jika tante Bedah itu setiap hari dimandikan oleh suaminya.Muncul suatu pertanyaan dalam benakku,kalau begitu tante Bedah punya rumah. Te manku itu mengatakan memang punya rumah,ketika hal ini aku tanyakan. Indikasi lainnya adalah setiap kali membeli rokok dia selalu membayar,artinya ia tahu kegunaan uang.Jika ia gila tentu semua hal itu tidak dimengertinya lagi karena sudah hilang akalnya.Arti membeli untuk memiliki sesuatu bagi tante Bedah tampaknya sesuatu yang biasa dilakukan yang tidak hilang dari ingatannya. Hari ini diperlihatkannya lagi ia bisa membayar dengan uang terhadap barang yang ia dapatkan. Kejadian ini terlihat olehku bersamaan dengan aku akan berbelanja ditempat penjual sayur yang sama.”Belanja tante Bedah” sapaku,dia lalu tersenyum dan berlalu setelah membayar barang yang dibelinya.
Ada suatu peristiwa yang sangat mengaggumkan aku. Suatu hari saat aku sedang mencuci piring aku melihat dari balik jendela dapur ku yang kebetulan menghadap ke sisi jalan umum,hanya beru -pa jalan kecil (gang) aku melihat tante Bedah melintas,setelah lewat dari pandanganku, tiba –tiba ia berbalik kearah awal.Tindakannya itu mendorong keingintahuan aku,gerangan apa yang dilakukan-nya.Maka aku menjulurkan tubuhku kearah jendela agar terlihat apa yang dilakukan oleh tante Bedah. Yang terlihat olehku,tampak ia merunduk mengambil sesuatu.Tak lama ia berdiri dengan tangannya yang sudah menggenggam bungkus makanan kecil berwarna kebiru-biruan.Tidak jelas oleh ku jenis makanannya.Setelah beberapa langkah berjalan terlihat sejenak dia berdiri seraya matanya bergerak kekiri kekanan.Lalu ia melepaskan bungkusan makanan dalam genggaman nya tadi kedalam pengki yang memang terentang diatas saluran got.Tetapi baru dua langkah ia berjalan,ia merunduk kembali dan memungut sesuatu.Ketika dia melemparkan kepengki,terlihat olehku melayang kertas warna merah seperti bekas bungkus permen.
Kejadian ini menimbulkan sebuah tanda tanya dalam pikiranku, orang ini tampaknya masih memi-liki hati nurani atau akal yang sehat.Entah mana yang tepat aku tak memiliki kemampuan untuk menentukan kondisi yang sesungguhnya dari orang yang dipanggil tante Bedah ini,karena aku memang bukan seorang psikolog.
Suatu kejadian lagi yang membuat aku kagum,sampai-sampai aku memerlukan untuk mencatatnya dan membuat tulisan tentang kejadian ini, adalah beberapa hari setelah peristiwa membuang sisa bungkus makanan kepengki itu,aku berselisih jalan dengannya.Kulihat kedua telapak tangannya terangkat membawa sayatan-sayatan kulit mangga dan ada biji mangganya.Pemandangan ini mendorong aku berhenti melangkah sesaat, melihat apa yang hendak dilakukan tante Bedah.Ternyata dia membuang kulit mangga tersebut kepengki yang terletak dibawah jendela dapurku itu.Ketika aku kemudian berjalan kembali,aku berpapasan dengan seorang ibu yang mendadak berbalik arah kejalan lain sambil berucap “aduh ada tante Bedah” raut wajahnyapun terlihat menggambarkan ketakutan.
Ini adalah suatu gambaran yang kontras, disatu sisi tante Bedah yang berpenampilan abnormal itu tahu artinya kebersihan,sementara siibu yang ketakutan tadi sebagai representasi dari kebanyak-an masyarakat yang merasa normal hampir tidak terlihat mereka memperhatikan masalah kebersih-an.Sudah merupakan hal yang lumrah dilingkungan masyarakat Perumnas membuang apa saja kedalam saluran got.Sambil duduk didepan rumah,entah apa saja yang dimakan,maka begitu mudahnya tangan mereka melayangkan sampahnya kedalam got.Bahkan anak-anak sejak usia belum pandai berjalan, setiap bangun tidur pagi dibawa keluar rumah untuk buang air kecil di got. Pemandangan ini sudah menjadi hal biasa sampai si anak sudah duduk dibangku sekolah dasar. Setiap kali saya melihat pemandangan tersebut timbul sebuah pertanyaan ,bagaimana dengan kebersihan si anak karena celananya langsung dipakai tanpa membasuh alat kelaminnya.Dan kondisi ini berlangsung terus sampai si anak masuk usia sekolah. Sering juga orang dewasa membuang air liur atau dahaknya ke got,padahal ia datang dari dalam rumah.Semua kejadian ini selalu menggang-gu pikiran saya dengan beberapa pertanyaan,bukankah mereka punya kamar mandi,kenapa tidak di kamar mandinya saja mereka lakukan semua kegiatan tersebut,apakah tidak ada dalam diri mereka rasa risih atau malu jika ada yang melihat meskipun hal ini biasa dilakukan oleh tetangga dilingkung-annya.
Dari sinilah kemudian timbul suatu pendapat dalam pikiran saya,betapa terbaliknya cara hidup orang-orang di negeri ini,yang hidupnya terlihat normal tetapi tidak menunjukkan prilaku dari mere-ka yang merasa hidup normal.Sebaliknya seseorang yang terlihat kehidupannya abnormal,namun menunjukkan cara hidup dari orang yang normal.
Depok, 13 Oktober 2008.