Selasa, 24 Juni 2014

Cara Berpikir Tardisional masyarakat yang sulit berubah

Apa kata mereka tentang akibat berani melakukan hal- hal yang merusak tubuh.
1. Rokok tidak sebab orang mati.
    Suatu hari ada seseorang bertanya kenapa ipar saya,meninggal.saya jawab, dia sudah lama terkena radang paru- paru, sering batuk parah. Kebetulan dia memang perokok berat. Sang penanya lalu berkomentar," rokok bukan penyebab orang akan mati, mati itu urusan Allah, kalau sudah ajalnya ya, pasti mati. Tetangga saya suda 78 th usia sampai sekarang masih merokok, sehat- sehat aja tuh, malah belom mati". Setelah basa basi sedikit sebagai orang yang lebih muda, saya ambil keputusan tidak akan berdebat lagi dengannya, saya mohon izin masuk rumah.
2. Makan 20 cabe rawit sudah biasa.
    Saya punya teman hobi makan- makanan yang alang kepalang pedasnya. Suatu hari saya menawarkan diri untuk beli makan siang gado- gado saja. Sekitar empat orang teman setuju. salah satu dari mereka minta gado- gadonya pedas sekali, tapi dia tidak menyebutkan berapa buah cabenya. Sampai di tukang gado- gado langganan, saya minta buatkan empat bungkus, tiga bungkus sedang, satu pedas sekali. Ketika tukang gado- gado bertanya berapa cabenya, saya mencoba untuk menelpon, eh ternyata hp saya tertinggal di kantor. Akhirnya saya putuskan saja sepuluh buah, dengan perbandingan saya, lima saja minta ampun pedasnya. Setelah selesai makan gado- gado, teman saya yang minta pedas sekali datang keruangan saya, lalu bertanya berapa cabe untuk gado- gadonya. Saya katakan sepuluh, kenapa terlalu banyak ya, tanya saya.Tapi apa jawabannya yang membuat saya terbelalak, bengong, saya hampir tidak percaya teman saya ini terlalu berani melakukan hal, yang saya yakin akan merusak lambungnya," tidak, sepuluh malah kurang, harusnya duapuluh buah." Haaa.......gak takut lambungnya rusak?" tanya saya heran. " Ah gak, saya sudah biasa, malah sepuluh gak terasa makan gado- gado." Teman- teman yang lain serentak mengatakan, emang baru tahu ya.."
3. Mengendarai motor.
   Bagi rakyat Indonesia kelas menengah bawah saat ini Motor merupakan kendaraan yang paling mudah didapat. Mengapa tidak, hanya dengan uang muka/ DP limaratus ribu sudah bisa memilikki sebuah motor baru. Nah, alhasil apa yang terjadi, dalam sebuah keluarga kelas menengah, tinggal di perumnas, bahkan di rumah kontrakan, bisa parkir motor lebih dari satu buah. Dan yang paling mengenaskan lagi, terlalu banyak anak- anak SD dan SMP berlalu lalang dengan motor, rata- rata matic digang- gang atau di jalan raya. Bukan hanya pergi sekolah, pergi main- mainpun mengendarai motor. Dan bahkan dengan beraninya mereka berboncengan sampai tiga orang. Mungkin karena mereka mencontoh orang dewasa, mungkin juga di lakukan oleh orang tua mereka, ketika berkunjung ke rumah keluarga, bisa membonceng satu keluarga berjumlah lima orang dengan motor maticnya. Satu berdiri di depan, satu duduk ditengah, satu di gendong. Malah saya sering melihat anak usia SD membonceng adiknya yang masih TK.Yang menjadi pertanyaan begitu tegakah seorang ibu atau seorang ayah, melepas anaknya yang belum waktunya, bahkan menurut undang- undang pun dilarang keras membawa kendaraan sebelum usia tujuh belas tahun. Belum lagi pelajar SMA dan yang seusia dengannya, lebih parah lagi sudalah beboncengan bertiga- tiga, tidak menggunakan helm, bahkan tidak memilikki SIM,ugal- ugalan pula dijalan raya. Pernah terjadi di kota kecil Depok ini pelajar SMA yang mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, terjun masuk kali ciliwung, dan mati seketika. Nah fenomena apah in ? Jika dicari siapa yang salah,
pabrik motorkah, penjual motorkah, orangtuakah, polisikah yang tidak mencegah pelanggar lalu lintas.
Betapa kasihannya sama pak polisi, begitu banyak masalah di jalan raya yang dihadapi, macet, angkot- angkot yang ngetem disembarang tempat, menaikan penumpang disembarang tempat, motor- motor yang
seenaknya menyalip, sementara rasio jumlah polisi dengan persolan di jalan raya tidak seimbang. Ketika kita sampaikan betapa berbahayanya, anak- anak dibawah umur atau remaja- remaja yang belum mempunyai SIM karena memang belum waktunya, mengendarai motor, jawaban mereka sederhananya saja," kematian itu urusan Allah, kalau sudah waktunya kata Allah, ya pasti mati."
Dari tiga kasus diatas, terlihat paham tradisional masih begitu melekat dalam cara berpikir masyarakat, terutama masyarakat kelas menengah bawah. Memang benar, ajaran agama Islam begitu tegas mengatakan ajal itu adalah ketetapan Allah. Namun seharusnya masyarakat juga harus memahami Allah memerintahkan kita agar manusia harus berikhtiar. Tapi tidak semudah itu mengubah minset masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar